20
Okt
08

8 Dari 10 Jawara tidak perlu umbaran

Terlepas dari pro-kontra yang bakal dituai oleh tulisan ini, saya akan memaparkan ringkasan “skripsi” hasil “penelitian” saya dengan judul “Pengaruh Pengumbaran pada Penampilan Burung”.

Latar belakang:

Pro-kontra terhadap perlunya umbaran (pengumbaran) bagi burung lomba terus berlangsung.

Persoalan:

Benarkah pengumbaran diperlukan agar burung mendapat predikat juara di perlombaan?

Hipotesis:

Pengumbaran tidak berpengaruh terhadap penampilan burung dalam perlombaan.

Kerangka teori:

  1. Men sana in corpore sano (salah nulisnya ya?)
  2. Pakan yang baik menyebabkan kondisi fisik yang baik.
  3. Burung bersuara dengan pita suara,
  4. Burung dalam kontes suara lebih banyak mengeluarkan tenaga pada otot-otot kerongkongan.
  5. Sekali naik ring dalam lomba burung, waktu maksimal hanya 30 menit
  6. Bla-bla-bla-bla….
  7. Bla-bla-bla-bla….
  8. Bla-bla-bla-bla….

Populasi: Cucak ijo (CI), murai batu (MB) dan anis merah (AM) yang ikut dalam kelas “Suara Merdeka” dalam Lomba Burung Berkicau Suara Merdeka Cup, Salatiga, 18 Mei 2008

Kerangka konsep:

Variabel Pengaruh

(Pengumbaran)

Variabel Antara

Variabel terpengaruh

(Nilai dalam lomba)

Diumbar/tidak diumbar

1. Frekuensi tanding

2. Usia

3. Pemilik

4. Fairness Lomba

5. Dll… bla-bla-bla

1. Volume

2. Variasi

3. Gaya

“Hasil penelitian”:

  1. Sebanyak 9 dari 10 CI jawara “Kelas Suara Merdeka” tidak pernah dimasukkan kandang umbar (pengumbaran).
  2. CI yang sering diumbar (satu ekor itu) mendapat peringkat VI.
  3. Sebanyak 7 dari 10 MB jawara “kelas Suara Merdeka” tidak pernah dimasukkan kandang umbar (pengumbaran).
  4. 3 Ekor MB yang sering diumbar dan masuk 10 besar itu masing-masing mendapat peringkat 6, 8, dan 10.
  5. 3 Ekor MB jawara itu mempunyai kekuatan pada suara yang variatif.
  6. 3 Ekor MB jawara itu relatif masih sering ngetem (istirahat bunyi dan bergaya)
  7. Sebanyak 8 dari 10 AM yang masuk 10 besar “kelas Suara Merdeka” tidak pernah dimasukkan kandang umbaran (pengumbaran).
  8. AM jawara (2 ekor) yang sering diumbar mendapat peringkat 3 dan 7)
  9. AM jawara tersebut mempunyai kekuatan pada gaya volume suara (keras).
  10. AM jawara tersebut tidak fight sejak awal hingga akhir. Yang satu terlambat start, yang satu finish sebelum waktunya (ngroncal/ oncling, bahasa Jawa).
  11. 3 CI, 4 MB dan 4 AM yang menurut pemiliknya sering diumbar (pengumbaran) sama sekali tidak masuk 10 besar dengan alasan berbeda-beda dan pada umumnya malah terlalu banyak gerak mau nglabrak lawan ke sana-ke mari (untuk MB) atau turun dari tangkringan (untuk AM).

Analisis hasil penelitian:

Belum sempat….

Kesimpulan:

Ya… juga belum sempat…

Catatan:

Terus terang saya belum sempat menganalisis secara detil “hasil penelitian” itu. Mangga, siapa saja boleh menyimpulkan, tetapi tentunya untuk menyimpulkan perlu data pendukung seperti beberapa ”variabel antara” yang saya tulis dalam kerangka konsep. Celakanya……. “variabel antara” itu tidak bisa saya peroleh, hehehehe….. maklum berada di arena hanya setengah hari sampai jam 13-an. Ke sana pun karena ketua panitianya yang dari Suara Merdeka adalah teman kental lama.

Paling tidak, apa yang saya tulis ini biar menjadi acuan teman2 yang barangkali suatu ketika pengin iseng2 melakukan peneitian kecil2an berkaitan dengan per-kicaumania-an.

Hehehe, sumangga.

(Artikel ini juga saya kirim ke http://www.kicaumania.org)


7 Responses to “8 Dari 10 Jawara tidak perlu umbaran”


  1. 1 adhy
    22/05/2008 pukul 5:19 pm

    Memang umbaran tidak menjamin burung kita juara. Akan tetapi perlu juga dilakukan penelitian dengan umbaran burung kita akan bebas menggerakan seluruh anggota tubuhnya. Dengan demikian maka aliran darah burung kita akan lancar yang kemudian akan berpengaruh dengan membaiknya kinerja hormon, antibodi pada burung, dan susunan syaraf motorik maupun sensorik.
    Nah klo burung kita sehat tentunya dalam melatih untuk menjadi juara akan lebih mudah.
    akan tetapi juga perlu dipertimbangkan faktor bakat maupun genetis.
    demikian komentar saya, nuwun mas……………………..

  2. 24/05/2008 pukul 11:55 am

    Betul Mas, moga2 lontaran saya ini bisa memicu adanya “penelitian” yang serius. Trims banget sudah mau nengok ke blog ini.

  3. 3 nanang
    03/11/2008 pukul 3:08 pm

    kalo menurut sy sich kandang umbaran hukumnya gak wajib krn kalo kandang harian yg dipake udah pas ukurannya (sesuai dg jenis burung yg menempatinya), itu dah cukup
    ditambah pola perawatan yg teratur, terpenuhinya makanan dan minuman yg bergizi, dll serta semangat perburungan, dijamin rebes….!
    mohon maaf kalo salah.

  4. 04/11/2008 pukul 5:25 am

    Hehe, saya sependapat….

  5. 5 kelana
    23/12/2008 pukul 9:32 pm

    saya pumya kenari tiba2 macet ga bunyi, apakah perlu diumbar, apa kurang di jemur ya, mohon pencerahaan..

    Jawab:
    Coba klik di sini. Untik referensi, bisa di baca ini..
    Jangan lupa pula baca ini.
    Kalau belum puas, bisa ajukan pertanyaan lebih detail terutama tentang awal mula mengapa menjadi tidak mau bunyi.
    Oke?
    Salam,
    Duto

  6. 04/02/2009 pukul 9:43 pm

    menurut saya , umbaran itu juga perlu untuk melatih nafas dan konversi energi diotot burung agar lebih terlatih. soal menang dilomba banyak dipengaruhi bakat burung sejak bakalanya, kalau sampelnya yang diukur menggunakan variabel pengaruh dan antara tidak bisa diuji dengan uji normalitas apa mungkin bisa diuji pengaruh komparabelnya.

    Jawab:
    Ya, betul pendapat Om. Hanya dalam ini, saya sebenarnya lebih menyorot soal umbaran yang menggunakan terapi “ala melatih petinju”. Silakan baca juga yang ini.
    Salam,
    Duto Solo

  7. 05/02/2009 pukul 2:53 pm

    salam Om Duto, terima kasih tanggapanya, saya juga punya beberapa pengalaman tentang burung ocehan antara lain:terocok, cicak keling, dan jalak penyu problem saya begini om,
    1. pada burung burung sejenis ada yang pola makannya normal misalnya 5 sendok makan pur hijau (fancy) seharian om tapi untuk jenis tiga burung diatas itu ada yang pola makannya los bisa 20 sendok sehari atau dikatakan “sekilo sehari”, sebenarnya gejala apa yang terjadi apakah berpenyakit tapi mereka tampak normal dan gacor. Bagaimana mengatasi burung seperti itu?
    2. saya juga punya labet untuk master, bagaimana membedakan laki dan perempuannya Om soalnya tidak jelas bagaimana bunyi”ngekek”nya, sudah bisa dibedakan kalau rutin di semprot dan di jemur pasti lebih ngekek daripada tidak disemprot dan di jemur, kata orang kalau tubuhnya kecil dan ngekeknya panjang itu laki laki, bisakah membedakannya dengan sesuatu seperti yang ada pada tulisan anda di AM.
    terima kasih sebelumnya..
    salam

    Jawab:
    1. Di antara terocok, cucak keling dan jalak penyu, yang makannya paling banyak tentu jalak penyu. Tetapi sebanyak2nya mereka makan, tidak mungkin kalau seekor menghabiskan 20 sendok makan. Mungkin kalau 3 ekor bisa jadilah dan tentu yang terbanyak adalah jalak penyu. Tetapi kalau sampai kiloan, hehehe mungkin it sekadar ungkapan saja ya. Kalau memang seekor kok bisa nyampai sekilo, wah pasti abnormal.. bisa masuk MURI nih hehehe.
    2. Untuk membedakan jenis kelaimin LB, bisa dibaca dan diklik di sini.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: