29
Des
08

Meminimalisasi risiko katarak pada burung

Banyak sekali kawan KM yang mengeluhkan burungnya yang terkena katarak. Katarak merupakan salah satu “penyakit” yang biasa diderita burung. Penyebabnya macam-macam. Bisa karena faktor internal (makanan) dan faktor eksternal (cahaya silau).
Untuk yang pertama, konon (saya sebut konon karena saya belum pernah menemui secara langsung) adalah kebanyakan UH.
Sedangkan yang kedua, yang merupakan pengalaman sejumlah kawan di Solo, adalah penempatan burung yang tidak tepat ketika menjemur ataupun menggantang.
Hindari menggantang burung di tempat yang dekat dengan sumber sinar yang membuat burung silau. Misalnya, jangan menggantang burung di dekat tembok (terutama bercat putih) yang memantulkan sinar matahari ke arah sangkar burung dan tempat2 lain yang sejenis.
Hindari menggantang burung di dekat lampu (misalnya ketika digantang di dalam rumah di malam hari). Sinar lampu yang terlalu dekat dengan burung, bisa membuat burung terlalu silau dan hal ini bisa menyebabkan burung terkena katarak.
Tambahan, perhatikan sekeliling tempat burung biasa digantang. Kalau ada warna2 yang terlalu cerah yang bisa membuat burung silau, maka perlu diubah atau gantangan burungnya yang dipindah.
Semoga bermanfaat.

Salam,
Duto Solo

[Maaf titip pesan: Kalau Anda, saudara Anda, kenalan atau rekan Anda selalu galal mendapatkan pekerjaan, coba deh ikuti konsultasi menembus dunia kerja bersama tim saya, Tim GG. Gratis…tis. Klik saja di sini.]

Tanya (tanya jawab di Forum Kesehatan Burung kicaumania.org):

Om Duto saya pernah berdiskusi dengan salah satu dokter hewan…katanya katarak itu penyakit genetik, bila terkena pada burung kapanpun pasti akan menyebabkan kebutaan dan ini sulit dihindari..pendapat Om Duto bagaimana?

Karena saya punya pengalaman yg cukup pahit dengan burung katarak..burung saya sudah jaga dari kelebihan sinar atau cahaya langsung, EF pun dijaga sedemikian rupa tapi tetep katarak dan sekarang sudah buta sebelah matanya..untuk kasusu seperti ini piye om?

sebelumnya maturnuwun sanget.

Bayu

Jawab:

Bisa jadi seperti itu, tetapi genetik yang bagaimana? Sebab hal itu kan lalu bisa disebut sebagai “penyakit keturunan”. Sama seperti manusia, ada yang disebut penyakit keturunan. Lha kalau penyakit keturunan kok begitu banyak, lantas benar juga kalau ada yang guyonan “Kalau begitu Nabi Adam itu penyakitnya banyak banget ya?” Nah ini kan nggak lucu.
“Penyakit keturunan” sebenarnya ada yang menurun lewat gen, tetapi ada yang menurun berdasar struktur organ tubuh. Orang yang berpenyakit asma, biasanya menurunkan keturunan yang juga berpenyakit asma, nah bagaimana logikanya? Logikanya, yang “menurun” itu sebenarnya adalah kesamaan struktur organ tubuh. Orang dengan bidang dada sempit (yang membuat orang mudah kena penyakit asma ataupun TBC) misalnya, akan menurunkan anak yang cenderung berdada sempit juga, dan kondisi ini memang berisiko besar kena penyakit asma atau sesak nafas. Apalagi dalam kasus TBC, mereka akan sering kontak dalam hidup keseharian dan akhirnya berisiko besar tertular.
Sedangkan katarak sebenarnya adalah tumbuh/munculnya lapisan kerak di bola mata atau bagian luar retina. Munculnya lapisan ini memang cenderung terjadi pada semua burung. Hanya saja, satu dan lainnya berbeda kondisinya tergantung kondisi lingkungan dan fisik burung bersangkutan. Faktor2 makanan dan silau cahaya misalnya, sebenarnya hanyalah faktor antara, yang bisa mempercepat tumbuhnya lapisan kerak pada bola mata.
Dengan meminimalisasi faktor2 pemicu, maka proses tumbuhnya kerak bisa diperlambat atau bahkan dicegah agar tidak tumbuh dan mengganggu.
Untuk kasus burung Anda, apa itu burung sejak kecil memang Anda yang nanganinya, sehingga bisa benar2 dikatakan terjaga? Kalau tidak, bagaimana kondisi rawatan sebelumnya?
Coba diteliti secara lebih cermat untuk megembangkan diskusi ini.

Duto

Komentar (Om Yulpri):

Kalau ane juga pernah denger penjelasan dari dokter hewan, bahwa katarak itu emang penyakit keturunan. Dan percaya ini mengingat penjelasannya yang cukup masuk akal dan berdasarkan keilmuannya. Ini pernah ane tanyakan juga di Forum ini dan dijawab oleh drh Edi. Linknya:

http://www.kicaumania.org/forums/sho…hlight=katarak

Menurut penjelasan beliau, ini ane kutip:

“katarak pada burung merupakan pengeruhan pada lensa mata burung sehingga lensa burung terlihat berwar titik putih. jika prosesnya melanjut maka warna putihnya akan semakin membesar. Biasanya terjadi pada salah satu bola mata lebih dulu, dan jika melanjut dapat terjadi pada kedua lensa mata burung. Kejadian katarak terjadi hampir pada semua jenis burung anis merah, anis kembang, kenari, murai batu dan burung lainnya. Dari berbagai literatur yang ada menjelaskan bahwa penyebab utama katarak adalah faktor genetis. Hal ini bisa terlihat pada kasus di lapangan. Misalnya burung kenari jenis YorkShire lebih sering mengalami katarak dibandingkan jenis holand karena banyak kenari jenis YS yang kena katarak sehingga keturunannyapun ada yang mengalami katarak. Mitos yang beredar di kicaumania agak lucu dan tidak benar yaitu katarak disebabkan penjemuran yang terlalu lama atau katarak karena pemberian ulat hongkong. Semua mitos tersebut tidak benar.

Seperti pada manusia, pengeruhan lensa mata dapat diatasi dengan penggantian lensa mata melalui sebuah operasi mata. Sayang sekali hingga kini belum ada industri yang membuat lensa mata burung, sehingga nasib burung yang sakit katarak belum sebaik manusia. Alhasil katarak pada burung belum dapat disembuhkan.

Para peneliti melaporkan pemberian vitamin A dan pemberian nutrisi yang lengkap pada burung dapat menunda proses katarak karena proses reaksi reaksi enzimatis dalam tubuh berlangsung lebih sempurna. saya sangat menganjurkan pemakaian vitamin dan suplemen yang tepat untuk memenuhi nurti pada burung karena kebutuhan gizi burung sangat tergantung pada nutrisi yang diberikan oleh sang pemiliknya (drh.Edi Boedi).”

Nah menurut penjelasan om Duto dan Om Dokter Edi ini, ane pikir singkron, katarak pada Burung bisa diperlambat prosesnya dengan perawatan yang tepat. Bisa jadi dengan nutrisi yang cukup dan seimbang.

Mengenai ujar2 Om Duto yang menyatakan, kasihan nabi Adam banyak sekali penyakit yang diturunkan.. hehehe nurut ane nggak gitu juga. Penyakit ini bisa datang dari proses evolusi yang panjang, bisa jadi suatu proses mutasi yang menyebabkan mahluk hidup terkena suatu penyakit. Dan penyakit yang datang ini bisa diturunkan juga. Jadi yah belum tentu dari Nabi Adam. Bisa jadi dari cucunya yang kesekian, trus kena Mutasi, trus sakit, mutasi ini merubah struktur gen-nya dan sialnya ini bisa diturunkan..

Makin menarik kan bahasannya.. hehehe ..

Komentar Duto untuk Om Yulpri:

Kalau soal penjelasan drh Edi, saya tidak tahu apakah itu referensi khusus katarak pada burung ataukah pada manusia?
Kalau pada burung, mungkin pernah dilakukan penelitian dan ada referensinya. Tetapi sejauh ini, referensi soal katarak adalah katarak pada manusia. Nah untuk yang satu ini, saya lebih percaya kepada doker spesialis mata. Mereka (American Academy of Ophthalmology), hanya menyinggung sedikit soal faktor genetis. Sebab, penyebab katarak lebih banyak karena faktor luar (penyakit degeneratif; penurunan daya tahan tubuh dan bukan “penurunan” dalam arti genetis). (http://www.jakarta-eye-center.com/de…=artikel&id=53).

Selain itu, ahli yang lain mengatakan bawa “Penyakit katarak banyak terjadi di negara-negara tropis seperti Indonesia. Hal ini berkaitan dengan faktor penyebab katarak, yakni sinar ultraviolet yang berasal dari sinar matahari. Penyebab lainnya adalah kekurangan gizi yang dapat mempercepat proses berkembangnya penyakit katarak”. (http://www.geocities.com/infokeben/katarak.htm).

Pada artikel lain (http://www.majalah-farmacia.com/rubr…asp?IDNews=816) disebutkan bahwa berdasar penyebabnya, maka ada katarak kongenital, katarak komplikata, katara senilis dan katarak traumatik.
Di sana tidak disinggung soal genetika.
Tetapi mohon maaf, itu tadi referensi katarak pada manusia. Kalau pada hewan (karena Pak Edi adalah dokter hewan), saya benar-benar belum mendapatkan referensinya kecuali memang dari drh Edi itu sendiri yang dikutip Om Yulpri.

Salam,
Duto

Komentar balik Om Yulrpi:

OK Om Duto, ane senang dan bangga diskusi ama Om Duto yang dari dulu ane kagumi tulisan-tulisannya…

Dari reffrensi yang om Duto tuliskan, ane kutip nih dari http://www.jakarta-eye-center.com/de…=artikel&id=53:

“Apakah Penyebab Katarak ?
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas.

Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda. Penyebab katarak lainnya meliputi :

* Faktor keturunan.
* Cacat bawaan sejak lahir.
* Masalah kesehatan, misalnya diabetes.
* Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid.
* Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.
* Operasi mata sebelumnya.
* Trauma (kecelakaan) pada mata.
* Faktor-faktor lainya yang belum diketahui.

Jelas di sini ane lihat faktor keturunan merupakan salah satu faktor munculnya katarak”.

di http://www.geocities.com/infokeben/katarak.htm ane kutip lagi:

“katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda. Penyebab katarak lainnya meliputi :

* Faktor keturunan.
* Cacat bawaan sejak lahir.
* Masalah kesehatan, misalnya diabetes.
* Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid.
* Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.
* Operasi mata sebelumnya.
* Trauma (kecelakaan) pada mata.
* Faktor-faktor lainya yang belum diketahui.

Kalau berdasarkan jenis kataraknya emang benar sumber yang om Duto sampaikan menuliskan bahwa:

Secara umum terdapat 4 jenis katarak seperti berikut.

1. Congenital, merupakan katarak yang terjadi sejak bayi lahir dan berkembang pada tahun pertama dalam hidupnya. Jenis katarak ini sangat jarang terjadi.

2. Traumatik, merupakan katarak yang terjadi karena kecelakaan pada mata.

3. Sekunder, katarak yang disebabkan oleh konsumsi obat seperti prednisone dan kortikosteroid, serta penderita diabetes. Katarak diderita 10 kali lebih umum oleh penderita diabetes daripada oleh populasi secara umum.

4. Katarak yang berkaitan dengan usia, merupakan jenis katarak yang paling umum. Berdasarkan lokasinya, terdapat 3 jenis katarak ini, yakni nuclear sclerosis, cortical, dan posterior subcapsular. Nuclear sclerosis merupakan perubahan lensa secara perlahan sehingga menjadi keras dan berwarna kekuningan. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada pandangan dekat (pandangan baca), bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih baik. Penderita juga mengalami kesulitan membedakan warna, terutama warna birru. Katarak jenis cortical terjadi bila serat-serat lensa menjadi keruh, dapat menyebabkan silau terutama bila menyetir pada malam hari. Posterior subcapsular merupakan terjadinya kekeruhan di sisi belakang lensa. Katarak ini menyebabkan silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang, serta pandangan baca menurun.

Heheh jadi panjang nih,,…

Tapi seperti yang disampaikan om Duto, ini katarak pada Manusia, kalau pada burung emang mesti dicari lagi refrensi dan penelitiannya. Tx

Komentar untuk komentar Om Yulpri:

Ya itulah masalahnya Om. Soal penyakit keturunan itu apakah sifatnya genetis (seperti albino misalnya) ataukah “penyakit menurun” dalam konteks yang lain (saya belum menemukan referensi jelas yang menyebutkan bahwa hal itu terbawa oleh DNA orang tua/genetis). Kalau keturunan dalam konteks yang lain ini, di depan pernah saya tulis begini:

“Penyakit keturunan” sebenarnya ada yang menurun lewat gen, tetapi ada yang menurun berdasar struktur organ tubuh. Orang yang berpenyakit asma, biasanya menurunkan keturunan yang juga berpenyakit asma, nah bagaimana logikanya? Logikanya, yang “menurun” itu sebenarnya adalah kesamaan struktur organ tubuh. Orang dengan bidang dada sempit (yang membuat orang mudah kena penyakit asma ataupun TBC) misalnya, akan menurunkan anak yang cenderung berdada sempit juga, dan kondisi ini memang berisiko besar kena penyakit asma atau sesak nafas. Apalagi dalam kasus TBC, mereka akan sering kontak dalam hidup keseharian dan akhirnya berisiko besar tertular.

Nah mangga dilanjut.

Salam,
Duto


2 Responses to “Meminimalisasi risiko katarak pada burung”


  1. 09/01/2009 pukul 8:35 am

    hal2 yang sering muncul dikalangan kicau mania kadang2 lucu2 jg ya.kalo orang jawa bilang mereka hanya menggunakan “ilmu titen”.atawa ilmu yang dideapat dari mengamati hal2 yang biasa terjadi dalam kehidupan.bahkan cenderung memunculkan “PHOBIA”2 berbagai macam dikalangan kicau mania.seperti kalo jaman dulu mbah2kita sering pada bilang misal,JANGANLAH PADA MAIN2 DILUAR RUMAH JIKA MATAHARI MULAI TENGGELAM,NTAR DIMAKAN BATHARA KALA.atau ada ladi JANGAN KEBANYAKAN MAKAN BRUTU(PANTAT AYAM) tar bisa jadi orang pelupa dsb.jadi lebih baik kita percaya ma yg ilmiah 2 aja dah.hari gini…ya to?kan udah melalui uji klinis tuh..dan dari sumber atau referensi yg dapat dipertanggung jawabkan karena telah melalui berbagai macam uji klinis dan riset2 yang udah matang.sekian terima kasih.

    Jawab:
    Memang banyak mitos melingkupi kehidupan burung, sampai-sampai ada yang menulis soal “Burung Rajanya Mitos” seperti di bawah ini:

    Burung Rajanya Mitos

    Harus diakui, burung adalah contoh satwa yang teramat dekat dengan kehidupan manusia. Begitu dekatnya burung dengan manusia, banyak aspek dalam kehidupan manusia yang dikaitkan dengan aktivitas burung. Singkatnya, aktivitas burung bisa dijadikan perlambang atau pertanda akan datangnya berbagai kejadian. Ada banyak contoh perilaku burung yang diartikan sebagai pertanda akan terjadi suatu hal di masyarakat. Misalnya, burung perenjak jawa (Prinia familiaris) yang mengoceh di depan rumah dapat diartikan sebagai pertanda akan ada tamu, akan ada kebakaran, atau akan ada rezeki tak terduga. Kicauan burung wiwik (Cacomantis merulinus) malah bikin hati kebat-kebit karena bisa diartikan akan ada kematian. Begitu pula datangnya gagak atau gaok hitam (Corvus macrorhynchus) juga bisa diartikan sebagai penjemput ajal. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, yang tidak hanya terjadi di Indonesia, khususnya Jawa, tetapi juga di mancanegara.
    “Sejauh ini hubungan burung dengan berbagai kejadian atau fenomena alam itu memang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Meski kenyataannya memang sering terjadi, kicauan perenjak di depan rumah diikuti dengan kedatangan tamu beberapa saat kemudian, tetap saja itu bukanlah pembuktian yang sahih”.

    Toh, banyak rumah lain yang tidak didatangi perenjak juga ada tamu. Ini artinya, segala teori yang menghubung-hubungkan perilaku burung dengan berbagai kejadian itu hanya sebatas mitos, atau kepercayaan yang diyakini bersama oleh masyarakat tanpa ada pembuktian ilmiah.

    Pada umumnya (berlaku universal di seluruh dunia), burung dibedakan menjadi dua kelompok pembawa berita. Kelompok pembawa berita buruk adalah elang, gagak, dan nasar. Sementara burung perenjak, wiwik, dan kedasi adalah kelompok burung pembawa kabar baik sekaligus buruk.

    Jika pembaca kebetulan pernah menyaksikan film semi mistis karya Alfred Hitchcock bertajuk The Birds, mungkin Anda akan mendapat gambaran lumayan jelas mengapa perilaku burung dapat ditafsirkan berbeda-beda oleh manusia. Tentu saja, penjelasannya juga versi Hitchcock yang rajanya misteri. Secara sederhana, perkara mitos ini bisa dijelaskan dengan pemahaman bahwa burung memiliki ketajaman visual yang lebih dibanding manusia.

    Akhirnya, daripada pusing dan bingung memikirkan benar atau tidaknya mitos burung-burung itu, lebih baik kita kenali lebih dekat burung-burung raja mitos tersebut.

    Perenjak jawa (Prinia familiaris)
    Perenjak jawa (Prinia familiaris) termasuk suku Silviidae yang biasa hidup di hutan bakau dan areal terbuka terutama di kebun. Selain perenjak jawa, yang termasuk dalam suku ini adalah perenjak gunung (Prinia atrogularis), perenjak padi (Prinia inornata), perenjak cokelat (Prinia polychroa), dan perenjak rawa (Prinia flaviventris).

    “Di antara kelima spesies ini, perenjak jawa yang paling terkenal di kalangan masyarakat Jawa, karena suaranya yang keras dan khas itu banyak diartikan sebagai pertanda berbagai hal dalam kultur Jawa”.

    Suara “cwuit-cwuit-cwuit…”-nya bisa jadi pertanda akan datangnya kejutan menyenangkan. Namun, konon suaranya juga bisa berubah menjadi tanda bahaya atau tak menyenangkan, yaitu jika berbunyi “hiiii-hiii-hiii”. Memang, umumnya perenjak bersuara ribut bersama kawanannya saat mencari mangsa di tanah sampai pucuk pohon.

    Burung yang umumnya berwarna cokelat, kuning, dan hijau ini sangat lincah memburu mangsa di antara dedaunan. Ukuran tubuhnya sekitar 13 cm dengan sayap bergaris putih khas serta ujung ekornya hitam-putih. Sementara itu, tubuh bagian atas cokelat sampai kehijauan, dengan tenggorokan dan dada tengah putih.

    Seperti jenis-jenis burung berkicau lainnya, ancaman terbesar yang dihadapi raja mitos ini adalah penangkapan untuk perdagangan. Kondisi ini diperparah dengan habitat yang menyusut, terutama di perkotaan.

    Kedasih / Wiwik (Cacomantis merulinus)

    Suara burung ini kadang kala memang membuat bulu kuduk berdiri. Hiii-tii-ti, ti, tir-ri-ri-ri-ri. Hiii-tii-ti-ti, tir-ri-ri-ri-ri! Mula-mula naik nadanya, kemudian turun ketika memekik tir-ri-ri-ri-ri. Konon, suara ini adalah pertanda bahwa sebentar lagi akan datang malaikat el-maut, tepat di tempat si wiwik memekik tadi.

    Kicauan burung wiwik sebenarnya tidak perlu terlalu ditakuti karena suaranya tergantung pada suasana hatinya sendiri. Pada musim hujan, suaranya jadi murung. Nada suaranya rendah atau menurun, seperti orang kecewa: pi-u-wit, pi-u-wit. Sementara pada saat suasana cerah dan ketersediaan pakan melimpah, burung ini sangat girang sehingga nada suaranya pun ikut riang: ti-ti-tuit, tii-ti-tuit, tii-ti-tuit. Nyanyian hati yang berbunga-bunga ini diteriakkan berulang kali sampai membuat gemas pendengarnya.

    Nah, suara yang ditakuti manusia sebenarnya terjadi karena suasana hati wiwik yang sedang mendung seperti cuaca saat itu. Kicauannya memang jadi terdengar menyedihkan: hiii-tii-ti-ti, tir-ri-ri-ri-ri, hiii-tii-ti-ti, tir-ri-ri-ri-ri, berulang dua sampai tiga kali. Bunyi sedih itu pula yang oleh orang Jawa dijadikan pertanda akan ada orang meninggal.

    “Apakah ada hubungan antara hati burung yang sedih dengan ajal, atau cuaca yang mendung dengan orang meninggal? Sampai saat ini tak ada yang pernah menguji dan membuktikannya secara ilmiah. Artinya, ramalan burung wiwik belum bisa disebut akurat dan berlaku universal”.

    Burung ini juga ketiban rezeki disebut-sebut sebagai peramal maut yang ulung. Dahulu kala, kalau ada gaok hitam berkaok-kaok di sekitaran sebuah rumah, pasti pemilik rumah jadi ketakutan karena akan segera menemui ajal. Teriakan rendah dan berat: aaa-ok,aaa-ok pun jadi mimpi buruk penduduk.

    Gagak

    Mungkin, satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah gaok hitam memang paling akrab dengan bangkai. Begitu ada bangkai, rombongan gaok akan langsung datang berbondong-bondong mengerubuti bangkai itu. Jadi, kedatangan gaok di perkampungan atau sekitar perumahan diindikasikan sebagai ramalan bahwa di tempat itu ada atau bakal ada makhluk yang jadi bangkai. Alhasil, semua orang ketakutan dijemput el-maut dan mengusir-usir si gaok agar jauh-jauh dari rumahnya.

    Burung hantu

    Di sini, burung hantu banyak sekali dikaitkan dengan berbagai mitos yang menyeramkan. Atau singkatnya, burung ini doyan dekat-dekat dengan hantu atau setan sehingga suaranya jadi pertanda keberadaan hantu. Tapi ternyata, burung hantu ini tak hanya terkenal sebagai raja mitos di negeri ini, melainkan juga di mancanegara, Konon, di India, suara burung hantu bisa jadi pertanda akan datangnya kematian.

    Namun, di negeri itu, burung hantu juga kondang sebagai penyembuh sakit jantung. Sementara itu di Yunani lain lagi, kalau ada burung hantu yang terbang mengitari pasukan yang tengah berperang, maka pasukan itu dijamin bakal menang.

    Usut punya usut, burung hantu adalah nama yang diberikan kepada kelompok burung yang aktif pada malam hari. Terbangnya sama sekali tidak berisik alias tanpa suara, meluncur saja seperti hantu. Orang awam atau nenek-kakek kita dulu menyangka burung ini bisa terbang seperti hantu karena berkawan dengan hantu.

    “Padahal secara ilmiah, terbang senyap ini bisa dilakukan burung hantu karena bulu sayap mereka yang sangat halus seperti beludru. Bulu halus ini meredam suara kepakan sayap dan gesekan angin saat tubuhnya melaju kencang memburu mangsa. Sehingga, calon mangsa tidak menyadari kedatangannya sampai tak bisa mengelak dari sergapan burung hantu. Selain itu, terbang senyap juga diperlukan agar burung hantu tak terganggu suara kepakan sayapnya sendiri”.

    Di dunia ini burung hantu ada macam-macam, ada yang namanya serak (Tyto), celepuk (Otus), ada pula yang disebut jampuk (Bubo).

    Tapi yang jelas, semuanya memiliki ciri khas aktif di malam hari, bisa terbang tanpa suara, matanya menghadap ke depan seperti mata manusia dengan bola mata besar yang selalu melotot, serta kepalanya bisa berputar hingga 230 derajat.

    Cerita tentang raja-raja mitos ini memang tak ada habisnya. Namun, alih-alih memperpanjang perkara mitos yang tiada hentinya itu, lebih baik menambah pengetahuan kita tentang khasanah burung Nusantara yang unik. Mitos boleh terus melegenda dalam masyarakat, tapi ornitologi harus terus berkembang dan jangan terpaku pada mitos tanpa pembuktian ilmiah. (Sumber: kicaumania.org dan Burung Indonesia)

    Salam,
    Duto

  2. 2 Yafakh
    04/02/2009 pukul 8:33 am

    Mo nanya mas…
    Gimana klu burung yang sudah kena penyakit katarak tersebut, apa ada obatnya atau penyembuhannya ?
    Thanks sebelumya.

    Jawab:
    Untuk saat ini belum ada caranya kecuali dioperasi layaknya operasi mata pada manusia..tetapi hehehe biayanya sama hasilnya apa dianggap sebanding??
    Itulah masalahnya Om.

    Salam,
    Duto Solo


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: