04
Feb
09

A-Q Molting, mabung, ngurak, nyulam pada burung

Moulting atau molting artinya adalah rontok, berganti bulu atau meranggas.

Moulting/molting (burung) adalah proses bergantinya bulu tua secara periodik.  Normalnya setahun sekali atau lebih dan dalam setahun bisa dua kali untuk species burung terentu.

Kadangkala, istilah moulting diterjemahkan dengan berbagai istilah seperti ngurak, mabung, ambrol, nyulam dan sebagainya. Hanya saja ada perbedaan berdasar “asal kata” masing-masing istilah tersebut:

Ngurak” digunakan untuk menyebut kondisi bulu burung yang sudah tidak beraturan (terorak-arik) dan mulai rontoknya bulu2 kecil.

Ambrol = bulu rontok semua atau proses bulu rontok semua.

Nyulam = Tumbuh bulu baru menggantikan bulu yang rontok tetapi secara keseluruhan bulu dalam kondisi bagus (tidak dalam kondisi ngurak).

Kosa kata yang sering muncul dalam proses “moulting” adalah mabung. Mabung ini adalah proses bulu2 tumbuh tetapi belum sempurna dan sebagian besar masih terbungkus seperti anak bambu yang mau tumbuh (rebung). Jadi kata mabung memang berasal dari kata “menyerupai rebung”.

Hanya saja secara umum kita sering menggunakan beberapa kosa kata itu secara berganti-ganti untuk menunjuk proses moulting. Padahal, kalau mendasari dari pembentukan kata-kata tersebut ataupun arti denotatifnya, maka proses moulting (sempurna) adalah melalui tahapan sebagai berikut:

1. Ngurak

2. Ambrol

3. Mabung

Sedangkan istilah nyulam adalah pergantian bulu secara tidak sempurna.

Jenis-jenis burung tertentu, terutama jenis cucak-cucakan, jarang yang mengalami proses moulting sempurna (ngurak, ambrol dan mabung) dan biasanya hanya nyulam.

Inilah mengapa sebabnya cucakrowo yang ditangkar biasanya berproduksi terus-menerus bahkan tiap bulan (jika anakannya dipisahkan dan diloloh sendiri oleh penangkar). Sedangkan untuk anis kembang, murai batu, kenari atau jalak suren misalnya, mengalami berhenti produksi karena indukannya memasuki masa moulting.

Penanganan burung ngurak

Jika burung Anda memasuki masa ngurak coba lakukan terapi ngurak secara ekstrem berikut ini:

1. Full kerodong;  dikerodong terus kecuali sedang diberi makan/minum.

2. Ganti merk voer.

3. Beri kroto. Untuk burung2 relatif besar seperti murai batu, kacer, anis merah, anis kembang , bisa minimal sesendok makan sehari. Untuk burung kenari, bisa sekitar setengah sendok teh. Untuk branjangan, bisa dua sendok teh.

4. Tidak dimandikan, tidak dijemur.

5. Tidak perlu dibersihkan kotorannya selama tidak berjamur.

6. Taburi dulu bagian dasar sangkar dengan kapur setebal sekitar 2 mm merata; kemudian di lapisan atasnya taburi lagi dengan dedak/katul setebal sekitar 1 cm juga merata.

Fungsi dedak: Untuk menghangatkan udara dalam sangkar tetapi terjaga kelembabannya (tidak terlalu kering). Karena lembab potensial sebagai tempat berkembang biak mikroba, maka kapur, yang selain menambah hangat juga bisa membunuh jamur atau mikroba lain (terutama karena full kerodong dan tdk dibersihkan kotorannya).

Udara hangat tetapi lembab sangat diperlukan untuk proses moulting. Bulu tua akan cepat rontok karena lapisan kulit luar yang menjepitnya membuka. Bulu muda akan sempurna tumbuhnya karena ujung bulu baru terbantu dalam memecah lapisan tanduk yang membungkusnya.

Tanya:

Mengapa tidak dijemur saja sembari dikerodong?

Jawab:

1. Udara dalam sangkar berkerodong, sangat panas juga kering. Udara kering di bawah sinar matahari akan menyebabkan lapisan tanduk pembungkus bulu baru mengering dan sulit pecah (menyebabkan bulu tumbuh tidak sempurna).

2. Konsentrasi O2 di udara kering di dalam sangkar yang berada di bawah terik matahari sangat tipis. Tidak sehat untuk makhluk hidup.

3. Suhu di dalam sangkar tidak terkontrol dan kalau mencapai 40 derajat C saja sudah cukup membuat burung megap-megap. Kalau Anda lupa, wassalam deh burung….

Terapi ini bisa untuk terapi mabung apa saja.

Tanya:

Kapur apakah yang dipakai?

Jawab:

Kapur yang digunakan adalah kapur yang biasa untuk makan sirih (kapur mati, bukan kapur aktif). Contoh kapur mati ya seperti kapur tulis ataupun kapur untuk makan sirih. Kalau kita beli kapur dari toko besi, biasanya adalah kapur aktif. Untuk “mematikan”-nya, beli saja kemudian ditempatkan ke wadah tahan panas. Setelah itu diberi air, maka kapur akan mendidih (awas, panas sekali). setelah berhenti mendidih, biarkan sampai dingin. Biarkan kemudian sampai mengering dan jadilah kapur mati. Hancurkan dan siap pakai.gak efek samping ke momongan kita setelah mabung?

Tanya:

Apakah tidak ada efek negatifnya?

Jawab:

Sejauh ini tidak ada.

Efek di luar itu malah yang harus diwaspadai, yakni jangan sampai kapur beterbangan. Berbahaya bagi mata kita.

Tanya:

Tapi momongan kita bisa hindarin juga gak ya?

Jawab:

Nah itulah mengapa sebabnya lapisan kapur harus ada di bawah. Dan di bagian atas dedak. Dedak harus di atas karena dia relatif tidak mudah beterbangan, sehingga berfungsi “menutup” kemungkinan kapur beterbangan. Kalaupun kapur bocor keluar, maka dia mengarah ke bawah dan keluar kandang. Karena sangkar dikerodong full, maka hal itu relatif cukup untuk melindungi burung kita.

Pengalaman selama ini, kalau kapur sudah ketutup dedak, biasanya dia tidak terserpih lagi seperti debu, tetapi partikelnya cenderung mengikat (lengket) satu sama lain.

Tanya:

Dikatakan bahwa saat melakukan perawatan tersebut burung full kerodong terus dan tidak mandi dan tidak jemur juga. Nah kira2 kapan kita sudahin perawatan ini dan boleh memandikan burung kembali ya? Apa sesudah bulu rontok semua ya?

Jawab:

Terapi mabung dilakukan sampai semua bulu burung di bagian tubuh selesai atau tuntas dan tidak ada lagi bulu tanduk (bulu yang masih terbungkus lapisan tanduk).

Tanya:

Aapa EF tetap kita berikan seperti biasanya saat perawatan ini? Terutama buat murai batu gimana ya?

Jawab:

Kalau mau lebih cepat rontok bulunya, ganti voernya dengan voer ayam yang proteinnya relatif lebih banyak ketimbang voer burung. Untuk MB, tambah juga porsi krotonya.

Voer dikembalikan lagi ke pakan semula ketika semua bulu sudah berganti baru dan tinggal menyempurnakan bulu2 yang sedang tumbuh itu. Porsi kroto dikembalikan lagi juga.


4 Responses to “A-Q Molting, mabung, ngurak, nyulam pada burung”


  1. 05/02/2009 pukul 1:16 pm

    lho burung makan kapur to… apa gak sakit perut…

    Jawab:
    Lho kok makan kapur? Aduh…nggak ada Om tips agar burung makan kapur… hehe…ada-ada saja….
    Salam,
    Duto Solo

  2. 2 nardi
    06/02/2009 pukul 11:53 am

    mas salam kenal,baru nih.
    Mas saya ada masalah tentang burung mabung.sehari yg lalu saya di kasi burung MB,saat ini kondisinya sedang mabung.mulai rapih tapi masih ada bulu2 muda yg belum tumbuh,tapi kendalanya pada saat saya dikasi yg punya sebelumnya tidak tau terapi mabung,jd dibiarkan gitu aja.keadaanya sebagiaan tertentu masih rusak n belum numbuh,buntutnya pun belum sejajar.yg jadi pertanyaan saya,kira2 terlambat tidak apa bila saya menerapkan teori yg mas tulis sekarang ini?dengan memakai Voer ayam,kapur n dedak?dan apabila terlambat solusinya apa y? n kira2 bisa mencapai masimal untuk Rapihnya bulu berapa lama?Terimakasih mas penjelasannya.
    Terimakasih
    Nardi

    Jawab;
    Nggak perlu, yang penting jangan dimandi dan dijemur dulu ya.

  3. 3 bayu gunawan
    07/02/2009 pukul 5:36 am

    om yang di maksud dedak tuch apa?

    Jawab:
    Dedak (katul) itu kan lapisan kulit ari pada beras yang dihasilkan di tempat-tempat penggilingan padi Om.

  4. 4 nardi
    09/02/2009 pukul 3:12 pm

    mas,full krodong ga?
    thx y mas jawabannya

    Terimakasih,
    nardi

    Jawab:
    Ya Om…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: